Monday, September 12, 2016

Saudaraku mari berpakaian terbaik ketika memasuki mesjid

Bismillah

Saudaraku seiman, tidak sedikit kita mendapatkan atau menjumpai sebagian saudara-saudara kita memakai kaos / memakai pakaian yang tidak pantas (bahkan ada gambar di bagian belakangnya) ketika mereka sholat berjama'ah di masjid.
Terkadang juga kita mendapatkan sebagian saudara kita yang memakai pakaian yang ketat, sehingga aurot mereka menjadi tampak atau terbuka ketika mereka sedang sholat.
Marilah kita simak firman Allah azza wa jalla berikut ini :
((يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِد))
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid..." [QS. al-A'rof : 31]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
"Diantara sesuatu yang dianjurkan berhias (memakai pakaian yang pantas, pent) ketika hendak sholat, terutama ketika sholat jum'at dan sholat ied, memakai wewangian (bagi lelaki) dan juga bersiwak." [Misbahul muniir hal. 473].
Mulai saat ini, marilah kita memperhatikan pakaian yang akan kita gunakan untuk sholat, baik ketika kita sholat di rumah, terlebih lagi ketika kita sholat berjama'ah. Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan.
Apabila kita mendapat undangan pernikahan/pertemuan, kita berhias dengan sedemikian rupa, maka sudah selayaknya dan sudah sepantasnya, kitapun berhias di saat kita akan menghadap Allah azza wa jalla.
Semoga bermanfaat.
Ustadz Budi Santoso, Lc.

Wednesday, July 22, 2015

Hadits Keempat: Larangan Tabarruk dari Pepohonan dan Sejenisnya




Hadits Keempat: Larangan Tabarruk dari Pepohonan dan Sejenisnya
Syaikh Robi' bin Hadi al Madkholi

عن أبي واقد الليثي – رضي الله عنه – قال: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط، فمررنا بسدرة، فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط، كما لهم ذات أنواط فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
« الله أكبر إنها السنن قلتم والذي نفسي بيده، كما قالت بنو إسرائيل لموسى: ﴿اجعل لنا إلهاً كما لهم آلهة قال إنكم قوم تجهلون﴾ لتركبن سنن من كان قبلكم ».
(أخرجه أحمد والترمذي وصححه ، وعبد الرزاق وابن جرير وابن المنذر وابن أبي حاتم والطبراني بنحوه).
Dari Abu Waqid al Laitsi rodhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Kami keluar bersama Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam ke Hunain dan kami baru saja keluar dari kekafiran. Kaum musyrikin mempunyai pohon yang mereka tinggal di sekitarnya dan mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon itu, dinamai Dzaatu Anwaath. Maka kami melewati pohon itu, lalu kami katakan, 'Wahai Rosulullah, buatkanlah untuk kami Dzaatu Anwaath sebagaimana Dzaatu Anwaath punya mereka.' Lalu berkata Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, "Allahu Akbar, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh kalian telah berkata seperti Bani Isroil telah berkata kepada Musa, ['... buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab: 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).'] Sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian."
(Dikeluarkan oleh Ahmad[1], Tirmidzi[2] dan beliau menshohihkannya, Abdur Rozzaq[3], ibnu Jarir[4], ibnul Mundzir[5], ibnu Abi Hatim, dan ath Thobroni[6] dengan yang semisalnya).

Periwayat Hadits:
Beliau adalah Abu Waqid al Laitsi nisbat kepada Laits bin Abd Manaf, dikatakan namanya al Harits bin Malik, dikatakan oleh yang lain ibnu 'Auf. Al Jama'ah telah meriwayatkan darinya, dan beliau mempunyai dua hadits di dalam Shohihain. Dikatakan bahwa dia mengikuti perang Badr, dan dikatakan juga bahwa dia termasuk muslim yang mengalami masa Fathul Makkah. Meninggal tahun 68 H ketika berumur 85 tahun.

Kosa Kata:
حنين : tempat yang dekat dengan Makkah.
حدثاء عهد بكفر : artinya masa mereka dekat dengan kekafiran (baru masuk Islam, pent.)
سدرة : satu jenis dari pohon.
يعكفون عندها : al 'ukuf adalah tinggal di suatu tempat.
ينوطون : menggantungkan senjata-senjata pada pohon itu dalam rangka mencari berkah.
السنن : jalan-jalan atau metode-metode.

Makna Global:
Ketika perang Hunain, di dalam pasukan Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam ada orang-orang yang baru masuk Islam, belum kokoh dalam keIslamannya, dan belum mantap dalam memahami dakwah Islamiyyah dan dalam memahami aqidah dan asas-asas karena masih dekat dengan masa kejahiliyahan dan kesyirikan. Mereka melewati kaum musyrikin yang sedang tinggal di sekitar pohon dalam rangka mencari berkah dan mengagungkannya. Orang-orang yang baru masuk Islam melihat mereka melakukan hal itu sehingga mereka minta kepada Rosulullah untuk membuatkan pohon tempat menggantungkan senjata-senjata guna mencari berkah dan bukan bermaksud untuk menyembahnya. Menurut sangkaan mereka, Islam memperbolehkan pencarian berkah semacam ini dan dengan cara ini mereka dapat mencapai kemenangan atas musuh-musuh mereka.
Permintaan yang aneh dan ajaib ini mengejutkan Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau mengatakan kalimat pengagungan yang sepantasnya dapat diambil pelajaran bagi umatnya sampai hari kiamat: "Allahu Akbar, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh kalian telah berkata seperti Bani Isroil telah berkata kepada Musa, ['... buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab: 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).']"
Alangkah pentingnya bagi muslimin untuk memahami pelajaran ini dan alangkah pentingnya bagi ulama khususnya untuk meneriakkan kalimat ini dengan kuat dan keras di hadapan orang awam dan yang sejenisnya di mana mereka mencari berkah kepada orang hidup, orang mati, pohon, dan batu dengan sangkaan bahwa itu termasuk agama Islam. Dan orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak mengharap kepada Allah dan hari akhir dari budak-budak harta dan jabatan menghiasi perbuatan itu dan memunculkan perasaan-perasaan bodoh dan polos, sehingga mengokohkan mereka di atas kebatilan dan menarik mereka ke kancah peperangan melawan al haq dan tauhid.

Faidah yang diperoleh dari Hadits:
1. Larangan menyerupai orang-orang jahiliyah.
2. Penyerupaan Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam antara permintaan mereka dengan permintaan Bani Isroil.
3. Sesungguhnya perbuatan yang dicela untuk Bani Isroil, juga dicela untuk umat ini jika mereka melakukannya.
4. Dalam hadits terdapat pemberitaan tentang kaidah menutup pintu kejelekan.
5. Juga terdapat sebuah tanda dari tanda-tanda kenabian yaitu terjadinya peristiwa yang telah dikabarkan Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam sebelumnya.
6. Takut dari kesyirikan dan bahwa manusia terkadang menganggap baik sesuatu yang dia kira dapat mendekatkan diri kepada Allah yang ternyata malah sangat menjauhkannya dari rahmatNya bahkan mendekatkan kepada kemurkaanNya.

Sumber: Mudzakkirotul Hadits an Nabawiy fil Aqidah wal Ittiba'


[1] 5/228.
[2] Kitab al Fitan: hadits nomor (2180), (4/475).
[3] (11/369) hadits nomor 10763.
[4] (9/45-46).
[5] Lihat ad Durrul Mantsur (3/533).
[6] (3/275) hadits nomor (3290-3294).

Tuesday, June 16, 2015

Mempersiapkan Diri Menyambut Kedatangan Bulan Ramadan



Sungguh bagus pertanyaan ini, “bagaimana mempersiapkan kedatangan bulan Ramadan?” Apakah dengan membuat stok bahan makanan dalam jumlah besar? Apakah dengan mempersiapkan diri dengan makan-makanan yang enak-enak karena satu bulan ke depan akan jarang memakannya? Apakah dengan mendatangi pasar-pasar untuk membeli barang-barang karena khawatir harga barang akan naik nantinya? Mencari info program Ramadan yang menarik di TV? Hanya itu sajakah? Lalu dimana persiapan ibadah dan ketakwaan?

Ukhtiy, maukah ana sebutkan persiapan yang terpuji untuk menyambut bulan Ramadan agar kita bisa bersama-sama mempersiapkannya…

1 Bertaubat dengan jujur.
Taubat pada dasarnya wajib setiap saat. Akan tetapi karena akan (menyambut) kedatangan bulan yang agung dan barokah ini, maka lebih tepat lagi jika seseorang segera bertaubat dari dosa-dosanya yang diperbuat kepada Allah serta dosa-dosa karena hak-hak orang lain yang terzalimi. Agar ketika memasuki bulan yang barokah ini, dia disibukkan melakukan ketaatan dan ibadah dengan dada lapang dan hati tenang.

Allah ta’ala berfirman:

( وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ) سورة النور: 31

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [QS. An-Nur: 31]

Dan dari Al-Aghar bin Yasar radhiallahu ’anhu dari Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat (kepada Allah) dalam sehari seratus kali” [HR. Muslim, no. 2702]

2 Berdoa.
Diriwayatkan dari sebagian (ulama) salaf, bahwa mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadan, kemudian mereka berdoa lagi lima bulan setelahnya semoga amalnya diterima. Seorang muslim hendaknya berdoa kepada Tuhannya agar mendapatkan bulan Ramadan dalam keadaan baik, dari sisi agama maupun fisik, juga hendaknya dia berdoa semoga dibantu dalam mentaati-Nya serta berdoa semoga amalnya diterima.

3 Gembira dengan semakin dekatnya kedatangan bulan yang agung ini.
Sesungguhnya mendapatkan bulan Ramadan termasuk nikmat Allah yang agung bagi seorang hamba yang muslim. Karena bulan Ramadan termasuk musim kebaikan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Ia adalah bulan Al-Qur’an serta bulan terjadinya peperangan-peperangan yang sangat menentukan dalam (sejarah) agama kita.

Allah berfirman: “Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” [QS. Yunus: 58]

4 Menyelesaikan tanggungan (qadha) kewajiban puasa.
Dari Abu Salamah, dia berkata, saya mendengar ‘Aisyah radhiallahu ’anha berkata: “Aku memiliki kewajiban berpuasa dari bulan Ramadan lalu, dan aku baru dapat mengqadanya pada bulan Sya’ban.” [HR. Bukhari, no. 1849, dan Muslim, no. 1146]

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dari keseriusan beliau (mengqadha) pada bulan Sya’ban disimpulkan bahwa hal itu menunjukkan tidak diperkenankan mengakhirkan qadha sampai memasuki bulan Ramadan berikutnya.” [Fathul Bari, 4/191]

5 Membekali diri dengan ilmu agar dapat mengenal hukum-hukum puasa dan mengetahui keutamaan Ramadan.

6 Segera menyelesaikan pekerjaan yang boleh jadi (jika tidak segera diselesaikan) dapat mengganggu kesibukan ibadah seorang muslim di bulan Ramadan.

7 Berkumpul bersama anggota keluarga, dengan istri dan anak-anak untuk menjelaskan hukum-hukum puasa dan mendorong si kecil untuk berpuasa.

8 Mempersiapkan sejumlah buku yang layak untuk dibaca di rumah atau menghadiahkannya kepada imam masjid agar di baca (di depan) jamaahnya pada bulan Ramadan.

9 Berpuasa pada bulan Sya’ban sebagai persiapan untuk berpuasa di bulan Ramadan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لا يَصُومُ ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ . (رواه البخاري، رقم 1868، ومسلم، رقم 1156)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ’anha: “Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia tidak pernah berbuka. Dan (lain waktu) beliau tidak berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia pernah berpuasa. Dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadan dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam memperbanyak berpuasa selain di bulan Sya’ban”. [HR. Bukhari, no. 1868, Muslim, no 1156]

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ’anhu, dia berkata: “Saya bertanya, Wahai Rasulullah saya tidak pernah melihat anda berpuasa di antara bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” (Beliau) bersabda: “Itu adalah bulan yang sering diabaikan orang, antara Rajab dan Ramadan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amal (seorang hamba) kepada Tuhan seluruh alam. Dan aku senang saat amalanku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa.” [HR. Nasa’i, no. 2357, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam shahih Nasa’i]

Dalam hadits di atas dijelaskan hikmah berpuasa pada bulan Sya’ban, yaitu bulan diangkatnya amalan. Sebagian ulama menyebutkan hikmah lainnya, yaitu bahwa puasa (pada bulan Sya’ban) kedudukannya seperti sunnah qabliyah dalam shalat fardhu. Agar jiwa merasa siap dan bersemangat dalam menunaikan kewajiban. Demikianlah yang dikatakan terhadap puasa di bulan Sya’ban sebelum Ramadan.

10 Membaca Al-Qur’an.
Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan bacaan (Al-Qur’an).

Adalah Amr bin Qais apabila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya, lalu berkonsetrasi membaca Al-Qur’an.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanaman.”

Dia juga berkata: “Perumpamaan bulan Rajab bagaikan angin, sedangkan perumpamaan Sya’ban bagaikan mendung dan perumpamaan Ramadan bagaikan hujan. Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiram pada bulan Sya’ban, bagaimana dia akan memanen di bulan Ramadan.”

Itulah beberapa persiapan yang dilakukan dalam menghadapi bulan puasa Ramadan yang barokah. Mari kita bersama-sama melakukan persiapan.

-shalihah.com-
Merujuk www.islamqa.com

Monday, June 15, 2015

Beberapa Hal Dasar tentang Puasa Ramadan


Alhamdulillah, sebentar lagi bulan penuh berkah akan datang, yaitu bulan puasa. Berikut ini beberapa hal dasar yang berkaitan dengan penyambutan dan pelaksanaan puasa di bulan Ramadan.

1 Tidak ada perkara-perkara khusus yang disyariatkan bagi seorang muslim dalam menyambut bulan Ramadan.
Hal tersebut telah dijelaskan melalui Fatwa Fadhilatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- dalam Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanwwi’ah, 15/9. Hal yang dianjurkan bagi seorang muslim menyambut bulan yang mulia ini adalah dengan menjalankan sebenar-benar taubat dan persiapan untuk puasa dan shalat tarawihnya dengan niat yang baik serta semangat kuat yang jujur.

Menyambut bulan Ramadan dilakukan dengan melakukan introspeksi diri terhadap kekurangan dalam merealisasikan dua kalimat syahadat atau kekurangan dalam menunaikan kewajiban atau kekurangan karena tidak meninggalkan perbuatan (terlarang), baik karena syahwat atau syubhat.

Hendaknya seorang hamba meluruskan akhlaknya di bulan Ramadan agar meraih derajat keimanan yang tinggi, karena keimanan bertambah dan berkurang. Bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan kemakasiatan.

2 Yang diwajibkan berpuasa Ramadan.
Pertama: Muslim
Kedua: Mukallaf (orang yang terkena kewajiban melakukan ibadah)
Ketiga: Mampu (menjalankan) puasa
Keempat: Menetap di suatu tempat (tidak bepergian)
Kelima: Tidak memiliki penghalang.
Kelima persyaratan ini, kalau ada pada seseorang, maka dia wajib berpuasa.

Terkait syarat kelima, tidak ada penghalang. Ini khusus bagi para wanita. Yaitu mereka yang haid dan nifas, tidak diharuskan baginya berpuasa, berdasarkan sabda Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam yang menetapkan (hal itu):

“Bukankah seorang wanita yang sedang haid tidak menunaikan shalat dan puasa”.

Maka tidak diharuskan berpuasa, bahkan (kalaupun dia berpuasa) tidak sah puasanya, berdasarkan ijma (konsensus ulama), namun diharuskan baginya mengqadha berdasarkan ijma pula. [As-Syarhu Al-Mumti’, 6/330]

3 Rukun-rukun Puasa.
Para ahli fiqih sepakat bahwa menahan dari pembatal-pembatal puasa sejak terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari adalah termasuk rukun puasa. Namun mereka berbeda pendapat dalam masalah niat. Mazhab Hanafi dan Hanbali bahwa niat adalah syarat sah puasa, sedangkan mazhab Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa niat termasuk rukun selain menahan (dari pembatal puasa). Baik niat dianggap rukun atau syarat, yang jelas puasa –seperti ibadah lainnya- tidak sah tanpa niat, kemudian menahan diri dari pembatal-pembatal (puasa).

[Al-Bahru Ar-Raiq, 2/276. Mawahibul Jalil, 2/378. Nihayatul Muhtaj, 3/149. Nailul Ma’arib Syarh Dalil At-Thalib, 1/274]

4 Melafazkan Niat Puasa Adalah Bid’ah.
Puasa Ramadan atau ibadah-ibadah lainnya tidak sah melainkan dengan niat. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhan amal (ibadah) itu tergantung niat. Dan setiap orang tergantung apa yang dia niatkan… sampai terakhir hadits.” [HR. Bukhari, no. 01, dan Muslim, no 1907]

Niat (puasa Ramadan) disyaratkan waktu malam, sebelum terbit fajar. Berdasarkan sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلا صِيَامَ لَهُ (رواه الترمذي، رقم 730، ولفظ النسائي، رقم 2334) مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَلا صِيَامَ لَهُ (صححه الألباني في صحيح الترمذي، رقم 583)

“Barangsiapa belum niat untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka dia tidak mendapatkan puasa.” [HR. Tirmizi, no. 730, sedangkan redaksi dalam riwayat Nasa’i, no. 2334] “Barangsiapa yang belum berniat puasa di malam hari, maka dia tidak mendapatkan puasa.” [Dishahihkan oleh Al-Albany dalam kitab shahih Tirmizi, no. 583]

Maksudnya adalah, barangsiapa belum berniat puasa dan tidak berencana kuat untuk melakukannya di waktu malam, maka dia tidak mendapatkan puasa.

Niat adalah perbuatan hati. Seorang muslim hendaknya memantapkan hatinya bahwa dia akan berpuasa besok. Tidak disyariatkan untuk melafazkannya dengan berucap: Saya niat berpuasa atau saya berpuasa sungguh-sungguh karena Engkau, hingga seterusnya, atau yang semisal itu dari berbagai bentuk ucapan yang dikarang-karang oleh sebagian orang. Niat yang benar adalah manakala seseorang memantapkan dalam hati bahwa dia akan berpuasa besok. Oleh karena itu syaikhul Islam mengatakan dalam kitab Al-Ikhtiyarat, hal. 191. “Barangsiapa yang terlintas dalam hatinya besok dia akan berpuasa, maka dia dianggap telah berniat.”

Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya: “Bagaimana seseorang niat puasa di bulan Ramadan?” Maka dijawab: “Niat adalah dengan bertekad bulat (menunaikan) puasa. Niat harus ditetapkan di malam hari (untuk) puasa Ramadan, setiap malam.’ [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/246]

5 Imsak (menahan dari pembatal puasa) Sebelum Fajar Beberapa Menit Adalah Bid’ah.
Tindakan itu tidak benar. Karena Allah Ta’ala memperbolehkan bagi orang puasa makan dan minum sampai terlihat jelas terbit fajar. Allah berfirman,

(Artinya) “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” [QS. Al-Baqarah: 187]

Diriwayatkan oleh Bukhari, no. 1919 dan Muslim, no. 1092 dari Ibnu Umar dan Aisyah radhiallahu’anhum. Sesungguhnya Bilal azan waktu malam. Maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Makan dan minumlah kalian semua sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan. Kerena beliau hanya azan setelah terbit Fajar.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Padanya (kesimpulan hadits ini), dibolehkan makan, minum dan berhubungan badan (jima) dan segala sesuatu sampai terbitnya fajar.”

Al-Hafiz Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab Fathul Bari, 4/199: “Di antara bid’ah yang mungkar adalah apa yang dilakukan pada zaman ini dengan mengadakan azan kedua sebelum fajar sekitar sepertiga jam di bulan Ramadan. Dan mematikan lampu-lampu sebagai tanda dilarang makan dan minum bagi orang yang ingin berpuasa. Mereka menyangka apa yang mereka perbuat adalah sebagai kehati-hatian dalam ibadah.”

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya apa yang didapatkan di sebagian taqwim dengan menentukan waktu imsak sebelum fajar sekitar seperempat jam, beliau mengatakan: “Ini adalah bagian dari bid’ah. Tidak ada landasannya dalam sunnah. Bahkan dalam sunnah adalah kebalikannya. Karena Allah berfirman dalam Kitab-Nya yang Mulia: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” [QS. Al-Baqarah: 187].

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Bilal azan di waktu malam (sebelum masuk waktu fajar), maka makan dan minumlah kalian semua sampai kalian mendengar azan Ibnu Ummi Maktum. Kerena beliau hanya azan setelah terbit Fajar.”

Imsak yang dibuat oleh sebagian orang adalah tambahan terhadap apa yang telah Allah Azza Wa Jalla wajibkan, maka hal itu batil dan perkara yang memberatkan diri dalam agama Allah. Padahal Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan, Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan, Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.” [HR. Muslim, 2670]

6 Doa berbuka puasa yang shahih.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca do’a berikut ini,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Dzahabadh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” [HR. Abu Daud no. 2357. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan]

Adapun do’a berbuka yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin yaitu,

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)”

Riwayat di atas dikeluarkan oleh Abu Daud dalam sunannya no. 2358, dari Mu’adz bin Zuhroh. Mu’adz adalah seorang tabi’in. Sehingga hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus). Hadits mursal merupakan hadits dho’if karena sebab sanad yang terputus. Syaikh Al Albani pun berpendapat bahwasanya hadits ini dho’if. (Lihat Irwaul Gholil, 4/38)

Hadits semacam ini juga dikeluarkan oleh Ath Thobroni dari Anas bin Malik. Namun sanadnya terdapat perowi dho’if yaitu Daud bin Az Zibriqon, di adalah seorang perowi matruk (yang dituduh berdusta). Berarti dari riwayat ini juga dho’if. Syaikh Al Albani pun mengatakan riwayat ini dho’if. (Lihat Irwaul Gholil, 4/37-38)

Di antara ulama yang mendho’ifkan hadits semacam ini adalah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. [Lihat Zaadul Ma’ad, 2/45]

Friday, May 8, 2015

Khaulah binti Malik bin Tsa'labah


 
Dia seorang wanita yang fasih dan indah perkataannya. Dia
selalu berhubungan dengan Allah SWT. Tidak kehilangan imannya kepada
Allah di saat-saat yang paling sulit. Akan tetapi dia mengadukan ke-
pada Allah dan Rasul-Nya. Kami ketengahkan kisah Khaulah bersama su-
aminya di hadapan para suami dan isteri ketika terjadi perselisihan,
perdebatan, perbantahan dan pertengkaran.

        Khaulah berkata :"Demi Allah, mengenai aku dan Aus bin Shamit,
Allah Azza wa Jalla menurunkan awal surah Al Mujaadilah. Dia berkata :
"Ketika itu aku sedang berada di dekatnya. Dia adalah orang tua yang
buruk kelakuannya dan sudah jemu." Khaulah berkata :"Pada suatu hari
dia masuk kepadaku, lalu aku membantahnya karena sesuatu hal sehingga
dia marah dan berkata :"Engkau terhadapku seperti punggung ibuku."
Kemudian dia keluar, lalu duduk di tempat pertemuan kaumnya sesaat,
setelah itu dia masuk dan menginginkan diriku. Maka aku katakan :
Sekali-kali jangan. Demi Allah yang menguasai nyawaku, jangan lolos
kepadaku sementara engkau telah mengatakan apa yang engkau katakan,
hingga Allah dan Rasul-Nya memberi keputusan tentang kita."

        Khaulah berkata : "Dia memaksaku, namun aku menolak. Aku
berhasil mengalahkannya, sebagaimana halnya wanita yang berhasil
mengalahkan laki-laki tua, maka aku berhasil menyingkirkannya dariku.
Kemudian aku keluar menemui Rasulullah SAW, lalu duduk di hadapan
beliau dan aku ceritakan kepada beliau perlakuan sang suami terhadap
diriku. Aku adukan kepada beliau perlakuan buruk yang aku terima dari
suamiku." Khaulah berkata :"Rasulullah SAW hanya bersabda :"Wahai,
Khuwailah, putera pamanmu seorang tua yang sudah lanjut usianya, maka
takutlah engkau kepada Allah."

        Khaulah berkata :"Demi Allah, begitu aku pergi, turun Al-
Qur'an mengenai diriku. Rasulullah SAW mengalami sesuatu yang biasa
dialaminya, kemudian terbebas darinya. Maka beliau bersabda :"Wahai
Khuwailah, Allah telah menurunkan wahyu mengenai dirimu dan temanmu.
Kemudian beliau membacakan surah Al Mujaadilah :
       "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang
memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya)
kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguh
nya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
        Orang-orang yang menzihar isterinya di antara kamu, (menganggap
isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka.
Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan
sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang
mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
        Orang-orang yang menzihar isteri mereka, kemudian mereka hendak
menarik kembali apa yang mereka ucapkan, mereka (wajib atasnya) memerde-
kakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah
yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerja-
kan.
        Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya)
berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa
yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin.
Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah
hukum-hukum Allha; bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih."
(Q.S. Al-Mujaadilah, 58:1-4)

        Khaulah berkata :"Kemudian Rasulullah SAW bersabda : Suruhlah
dia membebaskan seorang budak. Maka aku katakan : Demi Allah, wahai
Rasulullah, dia tidak punya budak untuk dibebaskan. Nabi SAW bersabda :
Suruhlah dia berpuasa dua bulan berturut-turut. Maka aku katakan : Demi
Allah, sesungguhnya dia seorang tua renta yang tidak berdaya. Nabi SAW
bersabda : Suruhlah dia memberi makan orang miskin sebanyak 60 sha' kurma.
Maka aku katakan : Wahai, Rasulullah, dia tidak mempunyai makanan sebanyak
itu. Maka Rasulullah SAW bersabda : Kami akan membantumu dengan serangkai
kurma. Maka aku katakan : Wahai Rasulullah, aku akan membantunya dengan
serangkai kurma lagi. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : Engkau berbuat
benar dan baik. Pergilah dan sedekahkan kurma itu baginya, kemudian per-
lakukan putera pamanmu dengan baik. Maka aku pun melakukannya."
["Al-Ishaabah, juz 8, halaman 618-620]

        Inilah dia, Khaulah. Di dalam kisahnya terdapat pelajaran tentang
kerukunan hidup suami isteri dan keikutsertaan dalam memperbaiki perpecah-
an dan pemeliharaan hubungan kerabat serta ketuaan usia antara suami isteri.
Diriwayatkan, bahwa Umar bin Khaththab r.a. berjumpa dengannya di masa khi-
lafahnya, ketika dia sedang menunggang seekor keledai dan orang-orang di
sekelilingnya. Kemudian Khaulah menyuruhnya berhenti dan menasihatinya.
Lalu dikatakan kepada Umar r.a. :"Apakah engkau bersikap demikian terhadap
perempuan tua ini ?" Umar berkata :"Tahukah kalian, siapa wanita tua ini ?
Dia adalah Khaulah binti Tsa'labah. Allah SWT mendengar perkataannya dari
atas tujuh lapis langit. Apakah Tuhan semesta alam mendengar perkataannya,
sedangkan Umar tidak mendengarnya ?" [Husnul Uswah bimaa Tsabata Minallaahi
wa Rasuulihi fin Niswah]

        Khaulah tidak mengandalkan kekerasan dan tidak berpikir mengenai
kejahatan, karena itu bukan akhlaq Islam. Akan tetapi dia mencari penye-
lesaian di sisi Allah dan Rasul-nya, dan mengadukan perkaranya kepada
Allah SWT yang menciptakannya, agar menghilangkan kesusahannya dan memberi
kemudahan sesudah kesulitan. Jika Anda ingin mendengarnya ketika menyampai-
kan keluhan kepada Rasulullah SAW, maka marilah kita baca hadits yang di-
riwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim, dan disahihkannya, dan Baihaqi
serta lainnya dari 'Aisyah r.a., dia berkata :

        "Maha Suci Allah yang pendengaran-Nya mendengar segala sesuatu.
Sungguh aku mendengar perkataan Khaulah binti Tsa'labah dan sebagiannya
tidak bisa kudengar ketika dia mengadukan suaminya kepada Rasulullah SAW
dan berkata : Wahai Rasulullah, dia menghabiskan masa mudaku dan aku
banyak melahirkan anak untuknya. Setelah usiaku menjadi tua dan aku ber-
henti melahirkan, dia melakukan zihar terhadapku. Ya, Allah, aku mengeluh
kepada-Mu."

        Khaulah berkata :"Begitu aku pergi, Jibril a.s. turun membawa ayat-
ayat ini." [Surah Al-Mujaadilah]

        Nabi SAW telah berwasiat agar memperlakukan para wanita dengan baik
dan beliau adalah teladan tertinggi dalam memperlakukan isteri-isterinya.
Nabi SAW bersabda mengenai hal itu : "Tidaklah orang Mu'min mendapat faedah
sesudah taqwa kepada Allah yang lebih baik daripada isteri yang sholeh. Jika
dia menyuruhnya, maka sang isteri menaatinya. Jika dia memandang kepadanya,
sang isteri menyenangkannya. Jika dia bersumpah kepadanya, maka sang isteri
melakukannya. Jika dia tidak ada di rumah, sang isteri memelihara harta dan
kehormatan suaminya." Nabi SAW bersabada : "Orang Mu'min yang paling sempur-
na imannya ialah yang terbaik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang
terbaik terhadap isterinya." ["Kanzul 'Ummaal (9/258-261)]

        Nabi SAW juga bersabda dalam akhir sebuah khotbahnya :"Perlakukan
para wanita dengan baik."  Dari Amru Ibnul Ahwash di sebuah hadits panjang
dalam menceritakan haji Wada', dari Nabi SAW, beliau bersabda :"Perlakukan-
lah para isteri dengan baik, karena mereka adalah tawanan pada kalian. Ka-
lian tidak berkuasa sedikit pun atas mereka selain itu, kecuali jika mereka
melakukan perbuatan keji. Jika mereka melakukannya, maka jauhilah mereka
dengan pukukan yang tidak menyakitkannya.
        Jika mereka taat kepada kalian, maka janganlah mencari jalan untuk
menyakiti hati mereka. Ketahuilah, bahwa kamu mempunyai hak pada isteri-
isterimu dan isteri-isterimu mempunyai hak kepada kalian. Adapun hak kalian
pada isteri-isterimu, maka mereka tidak boleh mengizinkan orang-orang yang
tidak kalian sukai menginjak tempat tidurnya dan tidak boleh mengizinkan
orang-orang yang tidak kamu sukai memasuki rumah-rumah kalian. Ketahuilah,
sesungguhnya hak mereka pada kalian adalah kalian beri pakaian dan makanan
yang baik kepada mereka." (HR. Tirmidzi dan disahihkannya)


                                *****

Wallahu a'lam bishowab.

Thursday, May 7, 2015

Ummu Hakim binti Al-Harits Al-Makhzumiyah, Isteri Ikrimah bin Abu Jahal


 
Sebuah figur dari iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW
serta lambang dari pengorbanan dan pembelaan di jalan Allah SWT.
Sesungguhnya dia adalah wanita mujahid yang agung. Sebelum masuk
Islam, dia keluar bersama suaminya untuk ikut dalam perang Uhud.
Suaminya adalah Ikrimah bin Abu Jahal, dan dia harus berdiri dalam
barisan Musyrikin.

        Akan tetapi pada waktu penaklukan Mekkah, dia sendiri yang
masuk Islam, tanpa suaminya. Adapun suaminya, Ikrimah bin Abu Jahal,
maka dia telah minta perlindungan kepadanya. Maka kaum Muslimin pun
melindunginya, akan tetapi Ikrimah telah kabur. Ummu Hakim keluar
mencarinya, padahal Ikrimah telah kabur ke Yaman. Ummu Hakim menemu-
kannya di Pesisir Tihamah. Ikrimah sudah berada di kapal. Maka Ummu
Hakim meneriakinya :"Hai, putera pamanku, aku datang kepadamu dari
orang yang paling pemurah, paling banyak berbuat kebajikan dan se-
baik-baik manusia. Jangan binasakan dirimu ! Aku telah minta perlin-
dungan bagimu dan dia telah melindungimu." Ikrimah berkata :"Engkau
lakukan itu ?" Ummu Hakim menjawab, "Ya, aku berbicara kepadanya,
lalu dia melindungimu."

        Kemudian Ikrimah kembali bersamanya, Ikrimah datang dan
berhenti di pintu Rasulullah SAW bersama isterinya. Ummu Hakim
minta izin kepada Rasulullah SAW, lalu masuk. Umar r.a. mengabari
Rasulullah SAW tentang kedatangan Ikrimah yang telah masuk Islam.
Ummu Hakim termasuk wanita-wanita yang berada di sekitar Rasulullah
SAW dalam menjalankan da'wah dan membelanya. Dia ikut dalam Perang
Yarmuk dan menunjukkan keberanian yang baik di sana. Dia bertempur
dengan sengit dalam Perang Marj Ash-Shafar (di dekat Damsyik). Dia
keluar memegang tiang kemah dan membunuh 7 orang tentara Romawi
dengan tiang itu.