Tuesday, August 15, 2017

Semua Akan Ada Gantinya

[ Semua Akan Ada Gantinya ]
Puncak kemerdekaan seorang hamba adalah adalah saat ia mampu menahan diri dari apa yang diharamkan Allah, padahal jiwanya amat mencintai hal itu, namun ia meninggalkannya karena Allah semata,


Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertaqwa, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar" (QS: Al Hujurat: 3)
Sahabat, Tak perlu gusar bila harus kehilangan sesuatu di jalan Allah... Karena ada ganti untuk setiap yang engkau tinggalkan karena-Nya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari apa yang ditinggalkannya" (HR. Ahmad)
Qatadah rahimahullah mengatakan:
Tidaklah seorang laki-laki yang mampu melakukan perbuatan yang haram, kemudian dia meninggalkannya, dimana dia tidak meninggalkannya kecuali karena takut kepada Allah azza wa jalla, maka Allah akan mengganti apa yang ditinggalkannya tersebut dengan sesuatu yang lebih baik pada kehidupan dunia sebelum kehidupan akhirat." Iya. .. Semua ada gantinya. ..
Yusuf pernah menolak Zulaikha, lalu Allahpun menggantinya dengan kekuasaan dan wanita yang halal.
Sulaiman pernah menyembelih kudanya karena membuatnya lalai dari mengingat Allah, lalu Allahpun menggantinya dengan angin yang dapat membawanya kemana saja.
Dahulu ada seorang pedagang yang selalu memberi hutang pada orang-orang. Suatu hari dia mengatakan kepada pembantunya, "Bila engkau mendatangi orang yang sulit, maka maafkanlah dia. Mudah-mudahan Allah memaafkan kita". Rasul bersabda: "Orang itupun menemui Allah lalu Allah mengampuninya." (Muttafaq Alaihi)
Alangkah indahnya balasan Allah itu. Seolah menegaskan kepada kita bahwa hidup tak selamanya berjalan menurut kalkulasi kita semata.
Oleh : Pusat Buku Sunnah

Masuk Neraka Gara-Gara Lisan

Masuk Neraka Gara-Gara Lisan
Lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Lisan merupakan anggota badan manusia yang cukup kecil jika dibandingkan anggota badan yang lain. Akan tetapi, ia dapat menyebabkan pemiliknya ditetapkan sebagai penduduk surga atau bahkan dapat menyebabkan pemiliknya dilemparkan ke dalam api neraka.


Oleh karena itu, sudah sepantasnya setiap muslim memperhatikan apa yang dikatakan oleh lisannya, karena bisa jadi seseorang menganggap suatu perkataan hanyalah kata-kata yang ringan dan sepele namun ternyata hal itu merupakan sesuatu yang mendatangkan murka Allah Ta’ala.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله , لا يلقي لها بالا , يرفعه الله بها درجات , و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله , لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم
.
“Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saturday, August 12, 2017

Kajian ilmiyah dan Tabligh Akbar Ust Dr. Erwandi Tarmidzi. MA di Makassar 18/19/20 Agustus 2017

HADIRILAH❗❗❗
TABLIGH AKBAR

♻Bersama:

🖍 *Ust. DR. Erwandi Tarmidzi. MAحفظه الله*

1⃣ 🗓 Hari:
_Jumat (malam sabtu)  26 Dzulqadah  1438H / 18 Agustus 2017_

📝 Tema :
_*Ketika Bahteraku Karam*_

⏰Waktu :
_Maghrib ~ Isya_

🕌 Tempat :
_Masjid Khadijah Jl. Asrama haji Sudiang_

2⃣🗓 Hari : 
_Sabtu, 26 Dzulqadah 1438H / 19 Agustus 2017_

1.📝Tema :
_*Gak mau zakat gue pajak loe*_

⏰ Waktu :
_Ba'dah subuh ~ Selesai_

🕌 Tempat :
_Masjid Khadijah Jl. Asrama haji Sudiang_

2.📝Tema :
_*Waspada Riba Dalam Bisnis Online*_

⏰ Waktu :
_Ba'dah Sholat Ashar ~ Selesai_

🕌 Tempat :
_Masjid Agung 45_

3⃣🗓 Hari :
_Ahad, 27 Dzulqadah 1438H / 20 Agustus 2017_

1.📝Tema :
_*Utang Dan Solusinya*_

⏰ Waktu :
_Ba'dah subuh ~ Selesai_

🕌 Tempat :
_Masjid Khadijah Jl. Asrama haji Sudiang_

2. ♻ *TABLIGH AKBAR*

🗓 Tema :
_*Harta Haram Muamamalat Kontemporer*_

⏰Waktu :
_Jam 09.00 ~ dzuhur_

🕌 Temapt :
_Masjid Almarkaz Al-Islami Makassar_

📞C.p 085205050999

📲 LIVE by FP Makassar Bertauhid

🔊Mari *SHARE &VIRALKAN*
Info Tabliq Akbar ini❗❗❗
Untuk mendapatkan Pahala yang sama bagi mereka yg mendatanginya

🔹🔹🔹🔹🔹🔹🔹
🔰Rek Donasi :
Kegiatan dan pengembangan DAKWAH
BNI syariah Makassar  0506874849
an : Nursyam (Bendahara Masjid Khadijah Sudiang Makassar ) 

♻Di selengarakan :
Yayasan Almuwahhidin Masjid Khadijah

🔊Repost By :
Makassar bertauhid

Monday, September 12, 2016

Saudaraku mari berpakaian terbaik ketika memasuki mesjid

Bismillah

Saudaraku seiman, tidak sedikit kita mendapatkan atau menjumpai sebagian saudara-saudara kita memakai kaos / memakai pakaian yang tidak pantas (bahkan ada gambar di bagian belakangnya) ketika mereka sholat berjama'ah di masjid.
Terkadang juga kita mendapatkan sebagian saudara kita yang memakai pakaian yang ketat, sehingga aurot mereka menjadi tampak atau terbuka ketika mereka sedang sholat.
Marilah kita simak firman Allah azza wa jalla berikut ini :
((يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِد))
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid..." [QS. al-A'rof : 31]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
"Diantara sesuatu yang dianjurkan berhias (memakai pakaian yang pantas, pent) ketika hendak sholat, terutama ketika sholat jum'at dan sholat ied, memakai wewangian (bagi lelaki) dan juga bersiwak." [Misbahul muniir hal. 473].
Mulai saat ini, marilah kita memperhatikan pakaian yang akan kita gunakan untuk sholat, baik ketika kita sholat di rumah, terlebih lagi ketika kita sholat berjama'ah. Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan.
Apabila kita mendapat undangan pernikahan/pertemuan, kita berhias dengan sedemikian rupa, maka sudah selayaknya dan sudah sepantasnya, kitapun berhias di saat kita akan menghadap Allah azza wa jalla.
Semoga bermanfaat.
Ustadz Budi Santoso, Lc.

Wednesday, July 22, 2015

Hadits Keempat: Larangan Tabarruk dari Pepohonan dan Sejenisnya




Hadits Keempat: Larangan Tabarruk dari Pepohonan dan Sejenisnya
Syaikh Robi' bin Hadi al Madkholi

عن أبي واقد الليثي – رضي الله عنه – قال: خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط، فمررنا بسدرة، فقلنا يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط، كما لهم ذات أنواط فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
« الله أكبر إنها السنن قلتم والذي نفسي بيده، كما قالت بنو إسرائيل لموسى: ﴿اجعل لنا إلهاً كما لهم آلهة قال إنكم قوم تجهلون﴾ لتركبن سنن من كان قبلكم ».
(أخرجه أحمد والترمذي وصححه ، وعبد الرزاق وابن جرير وابن المنذر وابن أبي حاتم والطبراني بنحوه).
Dari Abu Waqid al Laitsi rodhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Kami keluar bersama Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam ke Hunain dan kami baru saja keluar dari kekafiran. Kaum musyrikin mempunyai pohon yang mereka tinggal di sekitarnya dan mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon itu, dinamai Dzaatu Anwaath. Maka kami melewati pohon itu, lalu kami katakan, 'Wahai Rosulullah, buatkanlah untuk kami Dzaatu Anwaath sebagaimana Dzaatu Anwaath punya mereka.' Lalu berkata Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, "Allahu Akbar, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh kalian telah berkata seperti Bani Isroil telah berkata kepada Musa, ['... buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab: 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).'] Sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian."
(Dikeluarkan oleh Ahmad[1], Tirmidzi[2] dan beliau menshohihkannya, Abdur Rozzaq[3], ibnu Jarir[4], ibnul Mundzir[5], ibnu Abi Hatim, dan ath Thobroni[6] dengan yang semisalnya).

Periwayat Hadits:
Beliau adalah Abu Waqid al Laitsi nisbat kepada Laits bin Abd Manaf, dikatakan namanya al Harits bin Malik, dikatakan oleh yang lain ibnu 'Auf. Al Jama'ah telah meriwayatkan darinya, dan beliau mempunyai dua hadits di dalam Shohihain. Dikatakan bahwa dia mengikuti perang Badr, dan dikatakan juga bahwa dia termasuk muslim yang mengalami masa Fathul Makkah. Meninggal tahun 68 H ketika berumur 85 tahun.

Kosa Kata:
حنين : tempat yang dekat dengan Makkah.
حدثاء عهد بكفر : artinya masa mereka dekat dengan kekafiran (baru masuk Islam, pent.)
سدرة : satu jenis dari pohon.
يعكفون عندها : al 'ukuf adalah tinggal di suatu tempat.
ينوطون : menggantungkan senjata-senjata pada pohon itu dalam rangka mencari berkah.
السنن : jalan-jalan atau metode-metode.

Makna Global:
Ketika perang Hunain, di dalam pasukan Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam ada orang-orang yang baru masuk Islam, belum kokoh dalam keIslamannya, dan belum mantap dalam memahami dakwah Islamiyyah dan dalam memahami aqidah dan asas-asas karena masih dekat dengan masa kejahiliyahan dan kesyirikan. Mereka melewati kaum musyrikin yang sedang tinggal di sekitar pohon dalam rangka mencari berkah dan mengagungkannya. Orang-orang yang baru masuk Islam melihat mereka melakukan hal itu sehingga mereka minta kepada Rosulullah untuk membuatkan pohon tempat menggantungkan senjata-senjata guna mencari berkah dan bukan bermaksud untuk menyembahnya. Menurut sangkaan mereka, Islam memperbolehkan pencarian berkah semacam ini dan dengan cara ini mereka dapat mencapai kemenangan atas musuh-musuh mereka.
Permintaan yang aneh dan ajaib ini mengejutkan Rosulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, maka beliau mengatakan kalimat pengagungan yang sepantasnya dapat diambil pelajaran bagi umatnya sampai hari kiamat: "Allahu Akbar, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sungguh kalian telah berkata seperti Bani Isroil telah berkata kepada Musa, ['... buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).' Musa menjawab: 'Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).']"
Alangkah pentingnya bagi muslimin untuk memahami pelajaran ini dan alangkah pentingnya bagi ulama khususnya untuk meneriakkan kalimat ini dengan kuat dan keras di hadapan orang awam dan yang sejenisnya di mana mereka mencari berkah kepada orang hidup, orang mati, pohon, dan batu dengan sangkaan bahwa itu termasuk agama Islam. Dan orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak mengharap kepada Allah dan hari akhir dari budak-budak harta dan jabatan menghiasi perbuatan itu dan memunculkan perasaan-perasaan bodoh dan polos, sehingga mengokohkan mereka di atas kebatilan dan menarik mereka ke kancah peperangan melawan al haq dan tauhid.

Faidah yang diperoleh dari Hadits:
1. Larangan menyerupai orang-orang jahiliyah.
2. Penyerupaan Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam antara permintaan mereka dengan permintaan Bani Isroil.
3. Sesungguhnya perbuatan yang dicela untuk Bani Isroil, juga dicela untuk umat ini jika mereka melakukannya.
4. Dalam hadits terdapat pemberitaan tentang kaidah menutup pintu kejelekan.
5. Juga terdapat sebuah tanda dari tanda-tanda kenabian yaitu terjadinya peristiwa yang telah dikabarkan Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam sebelumnya.
6. Takut dari kesyirikan dan bahwa manusia terkadang menganggap baik sesuatu yang dia kira dapat mendekatkan diri kepada Allah yang ternyata malah sangat menjauhkannya dari rahmatNya bahkan mendekatkan kepada kemurkaanNya.

Sumber: Mudzakkirotul Hadits an Nabawiy fil Aqidah wal Ittiba'


[1] 5/228.
[2] Kitab al Fitan: hadits nomor (2180), (4/475).
[3] (11/369) hadits nomor 10763.
[4] (9/45-46).
[5] Lihat ad Durrul Mantsur (3/533).
[6] (3/275) hadits nomor (3290-3294).

Tuesday, June 16, 2015

Mempersiapkan Diri Menyambut Kedatangan Bulan Ramadan



Sungguh bagus pertanyaan ini, “bagaimana mempersiapkan kedatangan bulan Ramadan?” Apakah dengan membuat stok bahan makanan dalam jumlah besar? Apakah dengan mempersiapkan diri dengan makan-makanan yang enak-enak karena satu bulan ke depan akan jarang memakannya? Apakah dengan mendatangi pasar-pasar untuk membeli barang-barang karena khawatir harga barang akan naik nantinya? Mencari info program Ramadan yang menarik di TV? Hanya itu sajakah? Lalu dimana persiapan ibadah dan ketakwaan?

Ukhtiy, maukah ana sebutkan persiapan yang terpuji untuk menyambut bulan Ramadan agar kita bisa bersama-sama mempersiapkannya…

1 Bertaubat dengan jujur.
Taubat pada dasarnya wajib setiap saat. Akan tetapi karena akan (menyambut) kedatangan bulan yang agung dan barokah ini, maka lebih tepat lagi jika seseorang segera bertaubat dari dosa-dosanya yang diperbuat kepada Allah serta dosa-dosa karena hak-hak orang lain yang terzalimi. Agar ketika memasuki bulan yang barokah ini, dia disibukkan melakukan ketaatan dan ibadah dengan dada lapang dan hati tenang.

Allah ta’ala berfirman:

( وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ) سورة النور: 31

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [QS. An-Nur: 31]

Dan dari Al-Aghar bin Yasar radhiallahu ’anhu dari Nabi sallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat (kepada Allah) dalam sehari seratus kali” [HR. Muslim, no. 2702]

2 Berdoa.
Diriwayatkan dari sebagian (ulama) salaf, bahwa mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadan, kemudian mereka berdoa lagi lima bulan setelahnya semoga amalnya diterima. Seorang muslim hendaknya berdoa kepada Tuhannya agar mendapatkan bulan Ramadan dalam keadaan baik, dari sisi agama maupun fisik, juga hendaknya dia berdoa semoga dibantu dalam mentaati-Nya serta berdoa semoga amalnya diterima.

3 Gembira dengan semakin dekatnya kedatangan bulan yang agung ini.
Sesungguhnya mendapatkan bulan Ramadan termasuk nikmat Allah yang agung bagi seorang hamba yang muslim. Karena bulan Ramadan termasuk musim kebaikan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Ia adalah bulan Al-Qur’an serta bulan terjadinya peperangan-peperangan yang sangat menentukan dalam (sejarah) agama kita.

Allah berfirman: “Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” [QS. Yunus: 58]

4 Menyelesaikan tanggungan (qadha) kewajiban puasa.
Dari Abu Salamah, dia berkata, saya mendengar ‘Aisyah radhiallahu ’anha berkata: “Aku memiliki kewajiban berpuasa dari bulan Ramadan lalu, dan aku baru dapat mengqadanya pada bulan Sya’ban.” [HR. Bukhari, no. 1849, dan Muslim, no. 1146]

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Dari keseriusan beliau (mengqadha) pada bulan Sya’ban disimpulkan bahwa hal itu menunjukkan tidak diperkenankan mengakhirkan qadha sampai memasuki bulan Ramadan berikutnya.” [Fathul Bari, 4/191]

5 Membekali diri dengan ilmu agar dapat mengenal hukum-hukum puasa dan mengetahui keutamaan Ramadan.

6 Segera menyelesaikan pekerjaan yang boleh jadi (jika tidak segera diselesaikan) dapat mengganggu kesibukan ibadah seorang muslim di bulan Ramadan.

7 Berkumpul bersama anggota keluarga, dengan istri dan anak-anak untuk menjelaskan hukum-hukum puasa dan mendorong si kecil untuk berpuasa.

8 Mempersiapkan sejumlah buku yang layak untuk dibaca di rumah atau menghadiahkannya kepada imam masjid agar di baca (di depan) jamaahnya pada bulan Ramadan.

9 Berpuasa pada bulan Sya’ban sebagai persiapan untuk berpuasa di bulan Ramadan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لا يَصُومُ ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ . (رواه البخاري، رقم 1868، ومسلم، رقم 1156)

Dari ‘Aisyah radhiallahu ’anha: “Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia tidak pernah berbuka. Dan (lain waktu) beliau tidak berpuasa sampai kami mengatakan (mengira) dia pernah berpuasa. Dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadan dan aku tidak melihat Rasulullah sallallahu ’alaihi wa sallam memperbanyak berpuasa selain di bulan Sya’ban”. [HR. Bukhari, no. 1868, Muslim, no 1156]

Dari Usamah bin Zaid radhiallahu ’anhu, dia berkata: “Saya bertanya, Wahai Rasulullah saya tidak pernah melihat anda berpuasa di antara bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” (Beliau) bersabda: “Itu adalah bulan yang sering diabaikan orang, antara Rajab dan Ramadan. Yaitu bulan yang di dalamnya diangkat amal (seorang hamba) kepada Tuhan seluruh alam. Dan aku senang saat amalanku diangkat, aku dalam kondisi berpuasa.” [HR. Nasa’i, no. 2357, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam shahih Nasa’i]

Dalam hadits di atas dijelaskan hikmah berpuasa pada bulan Sya’ban, yaitu bulan diangkatnya amalan. Sebagian ulama menyebutkan hikmah lainnya, yaitu bahwa puasa (pada bulan Sya’ban) kedudukannya seperti sunnah qabliyah dalam shalat fardhu. Agar jiwa merasa siap dan bersemangat dalam menunaikan kewajiban. Demikianlah yang dikatakan terhadap puasa di bulan Sya’ban sebelum Ramadan.

10 Membaca Al-Qur’an.
Salamah bin Kuhail berkata: Dahulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan bacaan (Al-Qur’an).

Adalah Amr bin Qais apabila memasuki bulan Sya’ban, beliau menutup tokonya, lalu berkonsetrasi membaca Al-Qur’an.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanaman.”

Dia juga berkata: “Perumpamaan bulan Rajab bagaikan angin, sedangkan perumpamaan Sya’ban bagaikan mendung dan perumpamaan Ramadan bagaikan hujan. Barangsiapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiram pada bulan Sya’ban, bagaimana dia akan memanen di bulan Ramadan.”

Itulah beberapa persiapan yang dilakukan dalam menghadapi bulan puasa Ramadan yang barokah. Mari kita bersama-sama melakukan persiapan.

-shalihah.com-
Merujuk www.islamqa.com